文章
  • 文章
国际

'Lembar-Lembar Pelangi':Kisah perjalanan mengikuti kata hati hingga ke pelosok negeri

2016年10月7日上午11:39发布
2016年10月7日下午2:08更新

Lewat'Lembar-Lembar Pelangi',Nila berbagi kisah tentang keputusannya untuk meninggalkan karier di Ibukota untuk fokus mendirikan dan mengelola Taman Bacan Pelangi di Indonesia Timur。 Foto oleh Yetta Tondang / Rappler.com。

Lewat'Lembar-Lembar Pelangi',Nila berbagi kisah tentang keputusannya untuk meninggalkan karier di Ibukota untuk fokus mendirikan dan mengelola Taman Bacan Pelangi di Indonesia Timur。 Foto oleh Yetta Tondang / Rappler.com。

雅加达,印度尼西亚 - Butuh waktu tiga tahun bagi Nila Tanzil untuk menyelesaikan karya bukunya yang bertajuk Lembar-Lembar Pelangi Buku yang mengisahkan segala pengalaman suka dan dukanya merintis Taman Bacaan Pelangi,jaringan perpustakaan anak-anak di kawasan Indonesia Timur sejak tahun 2009 lalu。

Dan saat ditemui di acara peluncuran buku Lembar-Lembar Pelangi di Kinokuniya Plaza Senayan,Kamis,6 Oktober,Nila terlihat lega。 Ia bersyukur bisa merilis buku ini dan berharap bisa meneruskan semangat yang sama yang dimilikinya saat merintis Taman Bacaan Pelangi。

Taman Bacaan Pelangi sendiri adalah organisasi nirlaba yang berfokus untuk menyediakan akses buku bacaan untuk anak-anak yang tinggal di daerah terpencil di kawasan Indonesia Timur。

Nila mendirikan Taman Bacaan Pelangi dengan harapan untuk menumbuhkan minat baca anak-anak dan menyediakan akses buku untuk anak-anak yang hidup di kawasan terpencil tersebut。 Saat ini,Taman Bacaan Pelangi telah mendirikan 39 perpustaan​​ yang tersebar di 15 pulau di Indonesia Timur。

“Alasan saya membuat buku ini untuk mmeberitahu orang-orang yang tinggal di kota besar bahwa teman-teman dan saudara-saudara kita di Indonesia Timur itu hidup dengan segala keterbatasan infrastruktur,fasilitas dan juga kesulitan mengakses buku,”ungkap Nila。

Sejak mendirikan Taman Bacaan Pelangi,Nila melihat sendiri bagaimana antusias anak-anak di pelosok Indonesia Timur untuk membaca。 Bahkan akhirnya Nila mengambil keputusan bahwa bukan minat baca anak yang rendah di sana,tapi justru memang jumlah buku yang tersedia sangat terbatas。 Bahkan nyaris tak ada。

Karena itu,sejak 2009 Nila sudah aktif bekerja untuk mengumpulkan buku-buku bacaan anak-anak untuk dibawa dan didstribusikan ke Taman Bacaan Pelangi。 Hasilnya? Kini Nila bisa melihat perubahan signifikan pada anak-anak tersebut。

“Yang tadinya mereka cuma tahu cita-cita jadi guru atau pemain sepak bola,sekarang sudah ada yang mau jadi arkeolog。 Semua karena mereka membaca。 Mimpi itu yang ingin saya izinkan mereka lihat lewat buku,“kata Nila yang juga diamini rekannya sesama penulis yang juga hadir di peluncuran buku Lembar-Lembar Pelangi sore itu,Windy Ariestanty。

“Nila mau fokus untuk soal ini,saya bangga。 Bisa memberi'kaki'untuk buku-buku bepergian sampai ke Timur。 Bayangkan kalau semua orang terlibat menjadi'kaki'buku,“ujar Windy。

Panggilan hati

Selain berkisah soal pengalaman Nila mengelola Taman Bacaan Pelangi,buku Lembar-Lembar Pelangi juga ingin bercerita tentang pergulatan dan panggilan hati Nila,sang penulis。

Bagaimana Nila yang tadinya sudah sukses meniti karier di jalur korporasi,memantapkan hati untuk meninggalkan glamornya kehidupan Ibukota dan memilih fokus untuk mendirikan Taman Bacaan Pelangi di Indonesia Timur。

“散文menemukan makna dan tujuan dalam hidup,pahit dan manisnya pengalaman yang dialami,keraguan yang muncul di hati sebelum akhirnya melangkah mantap mengabdikan diri untuk berkarya di bidang sosial dan pendidikan dengan mendirirkan perpustakaan anak di berbagai daerah di pelosok Indonesia Timur,semuanya tertuang di dalam buku ini,“kata Nila。

Sebagai sebuah kesinambungan,Nila pun bekerjasama dengan penerbit Rak Buku untuk melakukan penggalangan dana lewat penjualan buku Lembar-Lembar Pelangi。 Jadi,untuk satu buku yang terjual,maka satu buku bacaan anak pula yang akan disumbangkan ke Taman Bacaan Pelangi nantinya。

“Saya waktu kecil suka membaca Tintin dan selalu bermimpi keliling dunia。 Dan akhirnya sayabisa mewujudkan itu dan semua berawal dari丁丁。 Karena itulah saya melakukan ini。 Anak-anak di Indonesia Timur juga berhak memiliki mimpi besar dan semua bisa diawali dari akses terhadap buku。“ - Rappler.com。